Cara Menghilangkan Bau Kamar Mandi yang Tak Kunjung Hilang

Bau tidak sedap di kamar mandi adalah masalah yang sangat umum dan sering membuat tidak nyaman. Meski sudah dibersihkan secara rutin, bau apek atau menyengat kadang tetap muncul dan sulit dihilangkan. Kondisi ini tentu mengganggu kenyamanan penghuni rumah maupun tamu yang berkunjung.

Sebenarnya, masalah ini bukan muncul tanpa sebab. Ada beberapa faktor tersembunyi yang sering luput dari perhatian. Dengan memahami penyebabnya, kamu bisa mengatasinya secara lebih efektif dan tahan lama.

9 Penyebab Kamar Mandi Bau yang Perlu diketahui.

1. Saluran Pembuangan Air yang Kotor.

Saluran pembuangan air sering menjadi sumber utama aroma tidak sedap di kamar mandi, meskipun area lain terlihat bersih. Hal ini terjadi karena bagian dalam saluran tidak terlihat langsung, sehingga jarang mendapat perhatian saat membersihkan kamar mandi.

Setiap kali mandi, air membawa sisa sabun, rambut, sel kulit mati, dan kotoran kecil masuk ke dalam saluran. Dalam jangka waktu tertentu, material ini akan menumpuk dan menempel di dinding pipa. Tumpukan tersebut menciptakan lingkungan lembap yang ideal bagi bakteri berkembang.

Ketika bakteri mulai mengurai sisa kotoran tersebut, proses pembusukan pun terjadi. Dari sinilah muncul aroma menyengat yang perlahan naik ke permukaan kamar mandi, terutama saat ruangan dalam kondisi tertutup atau jarang digunakan.

Masalah pada saluran air juga sering diperparah oleh desain floor drain yang kurang optimal. Saluran tanpa penutup yang baik memungkinkan kotoran masuk lebih mudah dan sulit keluar. Selain itu, air yang tidak mengalir lancar membuat endapan semakin cepat terbentuk di dalam pipa.

Pada beberapa kasus, bau akan terasa lebih kuat setelah kamar mandi lama tidak dipakai. Hal ini disebabkan oleh air di dalam pipa yang mengendap terlalu lama, sehingga menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme penyebab aroma tidak sedap.

Banyak orang mengira bau berasal dari kloset atau lantai, padahal sumber utamanya berada lebih dalam, yaitu di saluran pembuangan. Tanpa disadari, menyiram lantai saja tidak cukup untuk menghilangkan kotoran yang sudah menempel di dalam pipa.


2. Kelembapan Berlebih di Dalam Ruangan.

Kamar mandi adalah ruangan dengan tingkat kelembapan paling tinggi di dalam rumah. Setiap kali digunakan, uap air dari mandi akan memenuhi ruangan dan menempel pada dinding, lantai, plafon, hingga perabot. Jika uap air ini tidak segera keluar, kelembapan akan terus terperangkap di dalam ruangan.

Masalah mulai muncul ketika sirkulasi udara tidak berjalan dengan baik. Kamar mandi tanpa jendela, ventilasi kecil, atau exhaust fan yang jarang dinyalakan membuat udara lembap sulit tergantikan oleh udara segar. Akibatnya, ruangan terasa pengap dan muncul aroma apek yang khas.

Kondisi lembap yang berlangsung terus-menerus menciptakan lingkungan ideal bagi jamur dan bakteri untuk berkembang. Mikroorganisme inilah yang menghasilkan bau tidak sedap, meskipun lantai dan kloset terlihat bersih secara kasat mata. Bau biasanya semakin terasa saat pintu kamar mandi ditutup dalam waktu lama.

Kelembapan berlebih juga membuat permukaan kamar mandi sulit benar-benar kering. Air yang menempel di nat keramik, sudut lantai, dan dinding akan bertahan lebih lama dan perlahan menimbulkan aroma yang tidak nyaman. Semakin sering kamar mandi digunakan tanpa pengeringan yang baik, semakin kuat bau yang terbentuk.

Pada kamar mandi yang jarang terkena sinar matahari, masalah ini cenderung lebih parah. Tanpa panas alami untuk membantu menguapkan air, kelembapan akan bertahan lebih lama dan membuat bau semakin sulit hilang.


3. Jamur dan Lumut yang Tersembunyi.

Jamur dan lumut sering menjadi sumber aroma apek di kamar mandi, meskipun permukaan ruangan terlihat bersih. Hal ini karena pertumbuhannya tidak selalu terjadi di area yang mudah terlihat. Banyak bagian kamar mandi yang lembap dan jarang tersentuh saat dibersihkan, sehingga menjadi tempat ideal bagi jamur berkembang.

Area yang paling sering menjadi sarang jamur antara lain sudut lantai, nat keramik, bagian belakang kloset, bawah wastafel, serta celah-celah dinding yang sering terkena cipratan air. Di tempat-tempat inilah jamur tumbuh perlahan tanpa disadari.

Jamur dan lumut menyukai lingkungan lembap dengan sirkulasi udara yang buruk. Saat kelembapan terus terjaga dan tidak pernah benar-benar kering, mikroorganisme ini akan terus berkembang. Seiring waktu, jamur menghasilkan bau khas yang apek dan menetap, bahkan setelah kamar mandi disiram air atau diberi pengharum.

Masalahnya, jamur tidak selalu terlihat sebagai noda hitam atau hijau. Pada tahap awal, jamur bisa tumbuh tipis dan transparan, namun tetap menghasilkan aroma tidak sedap. Inilah yang membuat banyak orang bingung karena kamar mandi terlihat bersih, tetapi baunya tidak kunjung hilang.

Selain menimbulkan bau, jamur yang dibiarkan terlalu lama dapat meresap ke dalam nat keramik atau material tertentu. Ketika hal ini terjadi, bau akan semakin sulit dihilangkan karena sudah tersimpan di dalam pori-pori permukaan.

Jamur tersembunyi juga sering muncul di kamar mandi yang jarang terkena sinar matahari. Tanpa cahaya alami dan sirkulasi udara yang baik, kelembapan akan bertahan lebih lama dan mempercepat pertumbuhan lumut.


4. Kloset yang Tidak Bersih Menyeluruh.

Kloset sering dianggap sebagai satu-satunya sumber bau di kamar mandi, tetapi masalahnya bukan hanya soal seberapa sering dibersihkan, melainkan bagian mana saja yang dibersihkan. Banyak orang fokus pada bagian dalam mangkuk kloset, sementara area lain justru terabaikan.

Bagian sela dudukan kloset adalah salah satu titik yang paling sering menimbulkan aroma tidak sedap. Area ini mudah terkena cipratan air dan kotoran, tetapi jarang dibersihkan secara menyeluruh. Jika dibiarkan, bakteri akan berkembang dan menghasilkan bau yang sulit hilang meski kloset tampak bersih dari atas.

Selain itu, bagian bawah kloset dan sambungannya dengan lantai juga kerap menjadi sumber masalah. Air yang merembes ke area ini bisa bercampur dengan debu dan kotoran, lalu terperangkap dalam waktu lama. Kondisi lembap tersebut menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri dan jamur penyebab bau.

Masalah juga bisa berasal dari sistem pembilasan yang tidak optimal. Sisa kotoran yang tidak tersiram sempurna akan menempel di bagian tertentu dan perlahan menimbulkan aroma menyengat. Bau ini sering terasa semakin kuat saat kamar mandi jarang digunakan.

Pada kloset yang sudah berumur, permukaan keramik yang mulai aus atau retak halus dapat menyerap bau. Meski dibersihkan secara rutin, aroma tidak sedap tetap bisa bertahan karena sudah meresap ke dalam pori-pori material.

Tidak jarang pula bau muncul akibat pemasangan kloset yang kurang rapi. Sambungan yang tidak rapat atau seal yang sudah rusak memungkinkan aroma dari saluran pembuangan naik kembali ke ruangan. Silahkan baca tips membersihkan kloset jongkok.


5. Sisa Sabun dan Produk Perawatan Tubuh.

Sisa sabun dan produk perawatan tubuh sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi sumber bau yang cukup mengganggu di kamar mandi. Setiap kali mandi, sabun, sampo, dan cairan pembersih tubuh akan meninggalkan residu tipis di lantai, dinding, hingga sudut-sudut ruangan.

Residu ini biasanya tidak langsung terlihat karena bercampur dengan air. Namun, seiring waktu, lapisan tersebut akan menempel dan mengeras, terutama di area yang jarang tersiram air bersih. Saat bercampur dengan debu dan kotoran, sisa produk perawatan tubuh menjadi tempat ideal bagi bakteri untuk berkembang.

Selain itu, beberapa produk mandi mengandung minyak dan pelembap. Kandungan ini cenderung lebih sulit larut sepenuhnya dan mudah menempel di permukaan keramik maupun nat. Ketika minyak tersebut mulai terurai, aroma tidak sedap pun muncul secara perlahan.

Masalah semakin terasa pada kamar mandi yang sering digunakan banyak orang. Semakin sering produk mandi dipakai, semakin banyak pula residu yang tertinggal. Jika tidak dibersihkan secara menyeluruh, lapisan ini akan menumpuk dan menghasilkan bau yang sulit hilang meski lantai sudah disiram berkali-kali.

Area yang paling sering terdampak biasanya berada di sekitar tempat sabun, sudut dinding dekat shower, serta bagian lantai yang jarang terkena aliran air langsung. Tanpa disadari, kamar mandi bisa tampak bersih secara visual, tetapi tetap menyimpan aroma tidak sedap dari sisa produk yang menumpuk.


6. Ventilasi yang Tidak Berfungsi Optimal.

Ventilasi memiliki peran penting dalam menjaga udara di kamar mandi tetap segar. Ketika sirkulasi udara tidak berjalan dengan baik, udara lembap dan bau akan terperangkap di dalam ruangan. Inilah yang membuat aroma tidak sedap bertahan lama meskipun kamar mandi terlihat bersih.

Masalah ini sering terjadi pada kamar mandi yang tidak memiliki jendela atau hanya mengandalkan ventilasi kecil. Udara dari dalam ruangan sulit keluar, sementara udara segar dari luar tidak bisa masuk dengan cukup. Akibatnya, uap air setelah mandi akan menempel di dinding, plafon, dan lantai.

Kondisi lembap yang berlangsung terus-menerus menciptakan lingkungan ideal bagi jamur dan bakteri. Mikroorganisme inilah yang kemudian menghasilkan bau apek khas kamar mandi. Semakin lama kelembapan dibiarkan, semakin kuat pula aroma yang muncul.

Ventilasi yang tertutup debu atau kotoran juga dapat memperparah keadaan. Lubang udara yang seharusnya menjadi jalur keluar justru terhambat, sehingga sirkulasi udara hampir tidak terjadi. Hal ini sering tidak disadari karena ventilasi jarang dibersihkan secara rutin.

Pada kamar mandi yang menggunakan exhaust fan, masalah bisa muncul jika alat tersebut jarang dinyalakan atau sudah tidak berfungsi dengan baik. Exhaust fan yang lemah tidak mampu menarik udara lembap keluar secara maksimal, sehingga bau tetap tertahan di dalam ruangan.

Selain itu, kebiasaan menutup pintu kamar mandi terlalu lama setelah digunakan juga berkontribusi pada terjebaknya udara kotor. Tanpa adanya aliran udara yang lancar, bau akan semakin sulit hilang dan cenderung muncul kembali.


7. Masalah pada Pipa atau Instalasi Pembuangan.

Masalah pada pipa atau sistem pembuangan sering menjadi sumber bau yang paling sulit dilacak. Penyebabnya bukan karena kotoran di permukaan, melainkan karena aroma dari saluran pembuangan yang seharusnya tidak kembali ke area kamar mandi.

Salah satu faktor yang sering terjadi adalah pemasangan pipa yang kurang tepat. Sudut kemiringan pipa yang tidak ideal dapat membuat air limbah tidak mengalir sempurna. Akibatnya, sisa air dan kotoran tertahan di dalam pipa dan perlahan menimbulkan aroma tidak sedap.

Selain itu, sambungan pipa yang tidak rapat atau mulai mengalami kebocoran juga bisa memicu masalah ini. Celah kecil pada sambungan memungkinkan gas dari saluran pembuangan keluar dan menyebar ke dalam ruangan. Bau yang muncul biasanya lebih tajam dan berbeda dari bau apek akibat kelembapan.

Masalah lain yang sering tidak disadari adalah tidak berfungsinya perangkap air di dalam sistem pembuangan. Komponen ini berfungsi menahan gas dari saluran agar tidak naik kembali. Jika air di perangkap mengering atau desainnya tidak sesuai, bau akan lebih mudah masuk ke kamar mandi.

Pada kamar mandi lama atau hasil renovasi, sistem pembuangan sering kali mengalami perubahan tanpa perhitungan yang matang. Pipa lama yang tersumbat sebagian, pemasangan baru yang tidak sejajar, atau penggunaan material pipa yang sudah menua dapat memperburuk kondisi ini.

Bau akibat masalah instalasi pipa biasanya akan semakin terasa saat kamar mandi jarang digunakan atau ketika cuaca panas. Kondisi tersebut membuat gas dari saluran lebih mudah naik dan menyebar ke dalam ruangan.

Karena sumber masalahnya berada di dalam sistem pipa, bau jenis ini sering kali tidak hilang meskipun kamar mandi sudah dibersihkan secara menyeluruh. Inilah alasan mengapa masalah instalasi pembuangan perlu diperhatikan secara serius.


8. Genangan Air yang Sering Terjadi.

Genangan air di kamar mandi sering dianggap masalah kecil, padahal kondisi ini bisa menjadi sumber bau tidak sedap yang cukup mengganggu. Air yang tidak langsung mengalir ke saluran pembuangan akan tertahan di sudut lantai, sekitar kloset, atau di area yang permukaannya tidak rata.

Air yang menggenang menciptakan lingkungan lembap yang ideal bagi bakteri dan mikroorganisme. Dalam kondisi ini, sisa sabun, kotoran, dan minyak dari tubuh akan bercampur dan mengendap. Seiring waktu, endapan tersebut mulai terurai dan menghasilkan aroma apek yang perlahan menyebar ke seluruh ruangan.

Masalah genangan biasanya dipicu oleh kemiringan lantai yang kurang tepat atau posisi floor drain yang tidak berada di titik terendah. Akibatnya, air tidak mengalir sempurna meskipun sudah disiram berkali-kali. Genangan kecil yang terjadi berulang kali inilah yang sering luput dari perhatian.

Selain itu, genangan air yang sering terjadi juga mempercepat pertumbuhan jamur dan lumut, terutama di sudut lantai dan nat keramik. Jamur inilah yang kemudian memperkuat bau tidak sedap dan membuat kamar mandi terasa lembap meski sudah dibersihkan.

Pada kamar mandi yang jarang digunakan, genangan air bisa bertahan lebih lama tanpa disadari. Air yang lama mengendap cenderung menimbulkan bau lebih kuat, terutama saat ruangan tertutup dan sirkulasi udara kurang baik.

Karena terlihat sepele, banyak orang hanya mengeringkan permukaan lantai tanpa menyadari bahwa genangan di lantai adalah tanda adanya masalah pada aliran air. Jika kondisi ini dibiarkan, bau akan terus muncul meskipun kamar mandi tampak bersih secara visual.


9. Material Kamar Mandi yang Menyerap Bau.

Tidak semua bau di kamar mandi berasal dari kotoran atau saluran air. Dalam banyak kasus, aroma tidak sedap justru bertahan karena terserap ke dalam material yang digunakan di kamar mandi. Material tertentu memiliki pori-pori halus yang mampu menyimpan kelembapan sekaligus menyerap bau dalam jangka waktu lama.

Nat keramik adalah salah satu contoh yang paling sering menjadi penyebab. Bagian ini memiliki tekstur berpori sehingga mudah menyerap air, sisa sabun, dan kotoran. Ketika nat selalu lembap, bakteri dan jamur berkembang lebih cepat dan menghasilkan aroma apek yang sulit hilang, meskipun lantai sudah disiram air berkali-kali.

Selain nat, material plafon kamar mandi juga berpengaruh. Plafon berbahan gypsum, kayu, atau triplek cenderung menyerap uap air. Jika ventilasi kurang baik, kelembapan akan menetap di bagian atas ruangan dan memicu bau yang turun perlahan ke seluruh kamar mandi.

Elemen kayu yang digunakan sebagai pintu, rak, atau dekorasi juga bisa menjadi sumber aroma tidak sedap. Kayu menyerap air dengan mudah, terutama jika sering terkena cipratan. Dalam kondisi lembap terus-menerus, kayu dapat menahan bau apek yang sulit dihilangkan hanya dengan pembersihan biasa.

Pada kamar mandi lama, lapisan dinding atau lantai yang sudah aus juga berpotensi menyimpan bau. Retakan kecil atau lapisan pelindung yang rusak memungkinkan air dan kotoran masuk ke bagian dalam material. Bau yang tersimpan di dalam akan terus keluar meski permukaan terlihat bersih.

Masalah ini sering tidak disadari karena bau tidak muncul secara langsung. Biasanya aroma akan terasa lebih kuat saat kamar mandi tertutup lama atau setelah digunakan dalam waktu singkat. Inilah tanda bahwa bau sudah terserap ke dalam material, bukan hanya berada di permukaan.


Intinya…

Bau kamar mandi yang tak kunjung hilang biasanya bukan disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan kombinasi dari saluran air kotor, kelembapan tinggi, jamur tersembunyi, dan ventilasi yang buruk. Karena banyak penyebabnya tidak terlihat secara langsung, bau sering muncul kembali meskipun kamar mandi tampak bersih.

Dengan memahami penyebabnya terlebih dahulu, masalah bau ini bisa ditangani dari sumbernya, bukan hanya di permukaan.

Bersih bersih kamar mandi

7 Cara Menghilangkan Bau Kamar Mandi yang Tak Kunjung Hilang.

1. Membersihkan Saluran Air Secara Menyeluruh.

Saluran air sering menjadi sumber utama bau tidak sedap di kamar mandi. Di dalamnya, sisa sabun, rambut, dan kotoran akan menumpuk dan lama-kelamaan membusuk. Meski lantai dan kloset terlihat bersih, bau tetap bisa muncul jika bagian ini tidak dirawat dengan benar.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah menyiram saluran pembuangan dengan air panas. Air panas membantu meluruhkan lemak dan sisa sabun yang menempel di dinding pipa. Lakukan secara perlahan agar kotoran bisa turun dengan maksimal.

Setelah itu, buka penutup floor drain dan bersihkan bagian dalamnya. Gunakan sikat kecil atau sikat khusus saluran air untuk menjangkau area yang sulit terlihat. Fokuskan pada sisi dalam dan sudut pipa, karena di sanalah kotoran paling sering menumpuk.

Jika terdapat rambut yang menggumpal, segera angkat dan buang ke tempat sampah. Rambut yang dibiarkan terlalu lama akan menahan kotoran lain dan memperparah bau. Pastikan tidak ada sisa yang tertinggal sebelum penutup saluran dipasang kembali.

Agar hasilnya lebih optimal, lakukan pembersihan saluran air secara rutin, misalnya seminggu sekali. Dengan perawatan sederhana namun konsisten, bau dari saluran pembuangan bisa berkurang drastis dan kamar mandi terasa lebih segar setiap hari.


2. Mengeringkan Kamar Mandi Setelah Digunakan.

Kamar mandi yang dibiarkan basah terlalu lama akan lebih mudah menimbulkan bau apek. Air yang menggenang di lantai, dinding, atau sudut ruangan menciptakan kelembapan tinggi, sehingga jamur dan bakteri berkembang lebih cepat. Inilah yang membuat aroma tidak sedap sering muncul meski kamar mandi terlihat bersih.

Setelah selesai mandi, biasakan untuk mendorong sisa air di lantai menuju saluran pembuangan. Gunakan alat pendorong air atau pel lantai agar permukaan tidak terlalu lembap. Langkah sederhana ini membantu mempercepat proses pengeringan dan mengurangi bau yang tertinggal.

Selain lantai, perhatikan juga dinding dan area sekitar shower. Percikan air yang dibiarkan menempel akan membuat permukaan selalu lembap. Mengelap dinding dengan lap kering sesekali dapat membantu menjaga kamar mandi tetap kering dan segar.

Penggunaan keset di area basah juga sangat membantu. Keset berfungsi menyerap air yang menetes saat keluar dari shower atau kloset, sehingga lantai tidak terus-menerus basah. Pastikan keset sering dicuci dan dikeringkan agar tidak menjadi sumber bau baru.

Dengan membiasakan kamar mandi selalu kering setelah digunakan, udara di dalam ruangan akan terasa lebih segar. Kebiasaan kecil ini sangat efektif untuk menjaga kenyamanan dan mencegah bau apek muncul kembali.


3. Membersihkan Kloset Hingga ke Bagian Tersembunyi.

Membersihkan kloset tidak cukup hanya bagian dalamnya saja. Pastikan bagian bawah dudukan, belakang kloset, dan area sambungan kloset ikut dibersihkan. Gunakan sikat kecil untuk menjangkau area sempit agar bau tidak tersisa.

Pembersihan menyeluruh akan membantu menghilangkan sumber bau yang sering tidak terlihat. Penjelasan lebih lengkap silahkan baca:


4. Membersihkan Nat Keramik dan Sudut Ruangan.

Nat keramik dan sudut kamar mandi sering menjadi area yang paling cepat kotor, namun jarang diperhatikan. Sisa sabun, cipratan air, dan kelembapan yang terus-menerus membuat bagian ini mudah ditumbuhi jamur dan lumut. Inilah yang menyebabkan kamar mandi tetap berbau meskipun lantainya terlihat bersih.

Untuk membersihkannya, fokuskan perhatian pada garis nat di antara keramik serta sudut pertemuan lantai dan dinding. Gunakan sikat kecil agar kotoran yang menempel bisa terangkat dengan maksimal. Gerakan menyikat sebaiknya dilakukan perlahan agar permukaan nat tidak rusak.

Jika nat sudah menghitam atau berlumut, lakukan pembersihan secara rutin sampai warnanya kembali cerah. Jangan hanya membersihkan area yang terlihat, tetapi juga sudut-sudut tersembunyi di belakang kloset, bawah wastafel, dan sekitar floor drain. Area inilah yang sering menyimpan bau tanpa disadari.

Setelah selesai dibersihkan, bilas dengan air secukupnya lalu keringkan area tersebut. Nat dan sudut yang dibiarkan lembap akan lebih cepat kotor dan berbau. Dengan menjaga area ini tetap bersih dan kering, udara di kamar mandi akan terasa lebih segar dan nyaman.

Melakukan perawatan nat dan sudut ruangan secara berkala akan membantu menjaga kebersihan kamar mandi dalam jangka panjang. Selain mengurangi bau tidak sedap, kamar mandi juga terlihat lebih rapi dan terawat.


5. Menjaga Sirkulasi Udara Tetap Lancar.

Sirkulasi udara yang baik berperan besar dalam menjaga kamar mandi tetap segar. Ruangan yang lembap dan jarang mendapatkan aliran udara akan lebih mudah menimbulkan bau apek. Oleh karena itu, memastikan udara bisa keluar dan masuk dengan lancar adalah langkah penting yang sering diabaikan.

Jika kamar mandi memiliki jendela atau ventilasi, biasakan untuk membukanya setiap selesai digunakan. Udara segar dari luar membantu menggantikan udara lembap di dalam ruangan, sehingga bau tidak bertahan lama. Biarkan ventilasi terbuka selama beberapa waktu sampai kondisi kamar mandi benar-benar kering.

Untuk kamar mandi tanpa jendela, exhaust fan menjadi solusi yang sangat membantu. Pastikan alat ini berfungsi dengan baik dan dinyalakan setiap kali mandi serta beberapa menit setelahnya. Exhaust fan bekerja dengan menarik udara lembap keluar, sehingga ruangan tidak pengap dan lebih nyaman digunakan.

Selain itu, periksa kondisi ventilasi secara berkala. Ventilasi yang tertutup debu atau kotoran akan menghambat aliran udara. Bersihkan kisi-kisi ventilasi agar udara dapat mengalir dengan maksimal.

Dengan sirkulasi udara yang lancar, kelembapan di kamar mandi bisa dikurangi secara signifikan. Ruangan menjadi lebih cepat kering, jamur sulit tumbuh, dan bau tidak sedap pun bisa diminimalkan secara alami.


6. Membersihkan Area di Bawah dan Belakang Perabot.

Area di bawah dan belakang perabot kamar mandi sering kali luput dari perhatian saat membersihkan. Padahal, bagian inilah yang kerap menjadi tempat berkumpulnya debu, cipratan air, sisa sabun, dan kotoran lainnya. Jika dibiarkan, area tersebut akan menjadi lembap dan memunculkan bau tidak sedap.

Mulailah dengan menggeser perabot yang memungkinkan untuk dipindahkan, seperti rak kamar mandi, tempat sampah, atau keranjang laundry. Bersihkan lantai dan dinding di area tersebut menggunakan lap atau sikat agar kotoran yang menempel bisa terangkat dengan sempurna.

Untuk bagian bawah wastafel, perhatikan pipa dan sudut-sudutnya. Area ini sering lembap karena terkena cipratan air atau kebocoran kecil yang tidak disadari. Lap hingga kering dan pastikan tidak ada air yang menggenang agar bau apek tidak muncul kembali.

Bagian belakang kloset juga perlu mendapat perhatian khusus. Area ini sering sulit dijangkau sehingga jarang dibersihkan, padahal kotoran dan kelembapan bisa menumpuk di sana. Gunakan sikat kecil atau kain panjang agar bisa menjangkau bagian sempit dengan lebih mudah.

Agar kamar mandi tetap segar, lakukan pembersihan area tersembunyi ini secara rutin, setidaknya satu atau dua kali dalam sebulan. Dengan menjaga kebersihan bagian yang jarang terlihat, kamar mandi akan terasa lebih bersih, sehat, dan bebas dari bau yang mengganggu.


7. Rutin Membersihkan Kamar Mandi.

Membersihkan kamar mandi secara rutin adalah kunci utama untuk menghilangkan bau secara permanen. Tidak perlu setiap hari, cukup lakukan pembersihan ringan beberapa kali dalam seminggu agar kebersihan tetap terjaga.


Kesimpulan

Mengatasi bau kamar mandi tidak cukup hanya dengan menyemprotkan pewangi. Perlu pembersihan menyeluruh, menjaga area tetap kering, serta memastikan sirkulasi udara berjalan dengan baik. Jika dilakukan secara rutin, kamar mandi akan terasa lebih segar, bersih, dan nyaman digunakan setiap hari.

Cukup sekian dan semoga bermanfaat. Terimakasih.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top