Masalah Keramik Kamar Mandi Retak: Bahaya dan Cara Mengatasinya

Keramik kamar mandi yang retak sering dianggap masalah sepele. Banyak orang memilih mengabaikannya karena retaknya kecil atau tidak langsung mengganggu aktivitas. Padahal, jika dibiarkan terlalu lama, keramik yang retak bisa menimbulkan masalah yang lebih serius dan merugikan.

Dan kalau kamu melihat ada garis, pecah rambut, atau bahkan keramik yang sudah terasa goyang saat diinjak, sebaiknya jangan menunda untuk menanganinya.

8 Penyebab Keramik Kamar Mandi Bisa Retak. 

Kalau kamu menemukan keramik mulai retak, jangan langsung mengira penyebabnya hanya karena usia. Faktanya, ada beberapa faktor yang sering terjadi tanpa disadari dan akhirnya membuat keramik tidak sekuat saat awal dipasang.

Penyebabnya

Berikut penjelasan lengkapnya.


1. Permukaan Lantai di Bawah Keramik Tidak Rata. 

Salah satu penyebab paling umum adalah bagian bawah keramik yang tidak rata atau memiliki rongga. Saat keramik diinjak, tekanan tidak menyebar dengan baik sehingga bagian tertentu menanggung beban lebih besar. Lama-kelamaan, keramik pun mulai retak.

Masalah ini biasanya terjadi karena proses pemasangan yang terburu-buru atau adukan semen yang tidak merata.


2. Kualitas Keramik Kurang Baik. 

Tidak semua keramik memiliki kekuatan yang sama. Keramik dengan kualitas rendah cenderung lebih tipis dan rapuh. Di kamar mandi, keramik harus menahan beban tubuh, air, serta kelembapan tinggi setiap hari.

Jika sejak awal kamu memilih keramik yang bukan diperuntukkan untuk area basah atau lantai, risiko retak akan jauh lebih besar.


3. Perubahan Suhu dan Kelembapan. 

Kamar mandi sering mengalami perubahan suhu yang ekstrem, terutama jika sering menggunakan air panas dan air dingin secara bergantian. Kondisi lembab juga membuat material di bawah keramik mengalami pemuaian dan penyusutan.

Jika pemasangan keramik tidak memberi ruang untuk pergerakan ini, tekanan akan muncul dan menyebabkan retakan halus yang lama-lama membesar.


4. Beban Berat di Atas Keramik. 

Meletakkan benda berat seperti mesin cuci, bak air penuh, atau lemari di kamar mandi bisa memberikan tekanan berlebih pada keramik. Apalagi jika beban tersebut berada di satu titik saja dan jarang dipindahkan.

Tekanan terus-menerus ini sering menjadi penyebab keramik retak, bahkan pecah, tanpa disadari.


5. Nat Keramik yang Sudah Rusak. 

Nat bukan hanya pengisi celah, tapi juga membantu menahan posisi keramik agar tetap stabil. Jika nat mulai rapuh, mengelupas, atau berlubang, keramik akan kehilangan penyangga tambahan.

Akibatnya, keramik lebih mudah bergerak saat diinjak dan akhirnya mengalami retak.


6. Struktur Bangunan Mengalami Pergerakan. 

Pada beberapa rumah, terutama bangunan yang sudah lama atau berada di tanah labil, pergerakan struktur bisa terjadi. Retakan pada lantai kamar mandi sering menjadi tanda awal adanya pergeseran kecil pada bangunan.

Jika retak muncul di banyak titik dan terus bertambah, ini patut diwaspadai.


7. Usia Pemakaian yang Sudah Lama. 

Keramik juga memiliki batas usia. Setelah bertahun-tahun digunakan, kekuatannya bisa menurun, terutama jika sering terkena air, sabun, dan bahan pembersih.

Retak halus bisa muncul sebagai tanda bahwa keramik mulai melemah dan perlu perhatian lebih.


8. Kesalahan Saat Proses Pemasangan. 

Pemasangan yang tidak sesuai standar, seperti:

  • Adukan terlalu kering
  • Keramik dipukul terlalu keras
  • Tidak menggunakan perekat yang tepat

semuanya bisa menjadi penyebab keramik retak di kemudian hari.


Penutup

Keramik yang retak jarang disebabkan oleh satu faktor saja. Biasanya merupakan kombinasi dari pemasangan yang kurang tepat, kualitas material, serta kondisi pemakaian sehari-hari. Dengan memahami penyebabnya, kamu bisa lebih mudah menentukan solusi yang tepat dan mencegah kerusakan yang lebih parah.


7 Bahaya Keramik Kamar Mandi yang Retak Jika Dibiarkan. 

Bahayanya

1. Risiko Terpeleset dan Terluka. 

Lantai kamar mandi pada dasarnya sudah licin karena sering terkena air. Ketika permukaannya tidak lagi utuh, risikonya menjadi jauh lebih besar. Retakan, sekecil apa pun, bisa membuat lantai terasa tidak rata dan sulit dipijak dengan aman.

Pada kondisi basah, kaki tidak bisa mencengkeram permukaan dengan baik. Jika ada bagian yang sedikit terangkat atau sudut yang tajam akibat pecahan halus, kamu bisa dengan mudah kehilangan keseimbangan. Banyak kasus terpeleset di kamar mandi terjadi bukan karena lantainya kotor, tetapi karena permukaannya sudah tidak rata lagi.

Selain itu, retakan sering kali membuat keramik menjadi goyang atau kopong. Saat diinjak, lantai bisa bergeser sedikit tanpa disadari. Pergerakan kecil inilah yang sering menyebabkan tubuh refleks kehilangan tumpuan dan akhirnya jatuh.

Bahaya lainnya adalah luka pada telapak kaki. Pecahan halus yang tidak terlihat jelas bisa melukai kulit, apalagi jika kamu terbiasa berjalan tanpa alas kaki. Luka kecil memang terlihat sepele, tetapi di area yang lembab, luka seperti ini lebih mudah terinfeksi.

Risiko ini akan semakin tinggi jika kamar mandi sering digunakan oleh:

  • Anak-anak yang bergerak aktif
  • Lansia yang keseimbangannya sudah berkurang
  • Pengguna kamar mandi dalam kondisi terburu-buru

Kondisi lantai yang sudah tidak rata juga membuatmu lebih waspada setiap kali masuk ke kamar mandi. Rasa tidak nyaman ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan meningkatkan kemungkinan kecelakaan.

Intinya, permukaan lantai yang retak bukan hanya mengganggu tampilan, tetapi juga mengancam keselamatan. Menangani masalah ini sejak awal jauh lebih aman dibanding menunggu sampai terjadi insiden yang tidak diinginkan.


2. Air Meresap ke Bawah Lantai. 

Retakan pada permukaan lantai sering menjadi jalur masuk air yang tidak terlihat. Setiap kali kamu mandi atau membersihkan kamar mandi, air perlahan akan menyusup ke celah kecil tersebut dan mengendap di bagian bawah lantai.

Masalahnya, air yang sudah masuk ke bawah tidak bisa menguap dengan mudah. Area ini tertutup rapat dan selalu lembab, sehingga kondisi di bawah lantai menjadi basah dalam waktu lama. Lama-kelamaan, lapisan semen atau perekat keramik bisa melemah dan kehilangan daya rekatnya.

Jika dibiarkan, air yang mengendap dapat memicu lantai menjadi kopong. Saat diinjak, lantai terasa kosong atau berbunyi, menandakan bahwa bagian bawahnya sudah tidak kuat lagi menopang permukaan. Kondisi ini tidak hanya merusak satu titik, tetapi bisa menyebar ke area sekitarnya.

Risiko lainnya adalah kebocoran ke ruangan bawah atau samping. Pada rumah bertingkat atau kamar mandi yang berdekatan dengan ruangan lain, air bisa merembes dan menyebabkan noda lembab di plafon atau dinding ruangan lain.

Selain merusak struktur, air yang terus mengendap juga sering menimbulkan bau apek. Bau ini sulit dihilangkan karena sumbernya berada di bawah lantai, bukan di permukaan yang bisa dibersihkan dengan mudah.

Kesimpulannya, rembesan air melalui retakan kecil bisa menimbulkan kerusakan besar yang tidak langsung terlihat. Menangani masalah sejak awal akan jauh lebih hemat biaya dibanding harus memperbaiki kerusakan yang sudah menyebar ke banyak bagian.


3. Muncul Jamur dan Bakteri. 

Retakan pada lantai membuat air lebih mudah masuk ke bagian bawah permukaan. Air ini tidak langsung terlihat karena tertahan di balik keramik dan lapisan semen. Lama-kelamaan, area tersebut menjadi lembab dan jarang terkena udara atau cahaya, kondisi yang sangat ideal bagi jamur dan bakteri untuk berkembang.

Masalahnya, jamur yang tumbuh di bawah lantai sering tidak langsung terlihat. Kamu mungkin hanya mencium bau yang tidak kunjung hilang atau melihat nat mulai menghitam, padahal sumber utamanya berasal dari kelembapan yang terjebak di bawah permukaan. Membersihkan bagian atas lantai saja tidak akan menyelesaikan masalah ini karena akar permasalahannya tersembunyi.

Selain membuat kamar mandi terasa tidak bersih, jamur dan bakteri juga bisa berdampak pada kesehatan. Spora jamur yang menyebar di udara dapat memicu alergi, gatal, atau gangguan pernapasan, terutama bagi orang yang sensitif. Bakteri yang berkembang di area lembab juga meningkatkan risiko infeksi, apalagi jika kamu sering berjalan tanpa alas kaki.

Kelembapan yang terus-menerus juga mempercepat kerusakan material di sekitarnya. Nat menjadi rapuh, dinding ikut lembab, dan jamur bisa menyebar ke sudut-sudut kamar mandi yang lain. Jika dibiarkan, kamar mandi akan semakin sulit dibersihkan meskipun rutin dirawat.

Kesimpulannya, retakan pada lantai bukan hanya soal tampilan atau kenyamanan. Kondisi ini bisa menjadi pintu masuk bagi jamur dan bakteri yang mengganggu kebersihan serta kesehatan. Semakin cepat ditangani, semakin kecil kemungkinan masalah ini menyebar dan menimbulkan dampak yang lebih serius.


4. Kerusakan Menyebar ke Keramik Lain. 

Saat satu bagian lantai sudah mengalami retak, masalahnya tidak berhenti di satu titik saja. Tekanan dari pijakan kaki, aliran air, serta perubahan suhu setiap hari membuat bagian yang rusak semakin melebar. Retakan kecil perlahan membesar dan mulai memengaruhi keramik di sekitarnya.

Ketika satu keping sudah tidak lagi menempel sempurna, beban pijakan akan berpindah ke keping lain di sebelahnya. Akibatnya, keramik yang awalnya masih kuat ikut menanggung tekanan berlebih. Inilah yang membuat kerusakan menyebar dari satu titik ke area lain tanpa disadari.

Air juga berperan besar dalam mempercepat penyebaran masalah. Air yang masuk melalui celah retakan akan meresap ke bawah lantai dan melemahkan lapisan perekat. Jika kondisi ini dibiarkan, beberapa keping keramik di sekitarnya bisa ikut kopong dan mulai retak.

Dampaknya, perbaikan yang seharusnya cukup mengganti satu atau dua keping bisa berubah menjadi pekerjaan yang lebih besar. Area yang perlu dibongkar semakin luas, waktu pengerjaan lebih lama, dan biaya perbaikan pun ikut meningkat.

Itulah sebabnya, menangani retakan sejak awal sangat penting. Semakin cepat diperbaiki, semakin kecil kemungkinan kerusakan merembet ke bagian lain dari lantai kamar mandi.


5. Lantai Terasa Kopong dan Tidak Nyaman. 

Salah satu tanda yang sering muncul saat keramik mulai bermasalah adalah lantai terasa kopong ketika diinjak. Biasanya terdengar bunyi kosong atau terasa ada bagian yang sedikit turun saat diberi beban. Kondisi ini menandakan bahwa daya rekat di bawah permukaan sudah tidak bekerja dengan baik.

Ketika lapisan perekat atau semen di bawah keramik mulai rusak, akan terbentuk rongga kecil. Rongga ini membuat tekanan dari pijakan tidak tersebar merata. Akibatnya, setiap kali kamu melangkah, lantai terasa tidak stabil dan menimbulkan rasa tidak aman.

Selain mengganggu kenyamanan, kondisi kopong juga mempercepat kerusakan. Tekanan yang terus-menerus pada satu titik akan membuat retakan semakin lebar. Lama-kelamaan, satu keping bisa ikut memengaruhi keramik di sekitarnya, sehingga kerusakan menyebar tanpa disadari.

Lantai yang tidak stabil juga membuat aktivitas sederhana terasa kurang nyaman. Saat mandi atau membersihkan kamar mandi, kamu mungkin akan lebih berhati-hati, takut pijakan bergeser. Jika dibiarkan, hal ini bisa meningkatkan risiko terpeleset dan jatuh.

Masalah kopong juga sering menjadi tanda awal bahwa air sudah meresap ke bagian bawah lantai. Kelembapan yang terperangkap akan memperlemah lapisan perekat dan memperburuk kondisi dari waktu ke waktu.

Kesimpulannya, lantai yang terasa kopong bukan sekadar masalah suara atau rasa tidak nyaman. Ini adalah tanda bahwa struktur lantai sudah mulai bermasalah dan perlu segera ditangani sebelum kerusakan menjadi lebih parah dan biaya perbaikannya semakin besar.


6. Bau Tidak Sedap dari Kamar Mandi. 

Bau apek yang muncul di kamar mandi sering kali membuat ruangan terasa tidak nyaman, meskipun sudah dibersihkan secara rutin. Salah satu penyebab yang sering tidak disadari adalah adanya celah pada lantai yang memungkinkan air masuk ke bagian bawah.

Air yang meresap dan terjebak di bawah permukaan lantai akan sulit mengering, terutama karena area kamar mandi selalu lembab. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang ideal bagi bakteri dan jamur untuk berkembang. Seiring waktu, aktivitas mikroorganisme inilah yang memunculkan aroma tidak sedap.

Yang membuat masalah ini sulit diatasi adalah sumber baunya tidak terlihat langsung. Kamu mungkin sudah menyikat lantai, menyemprot pewangi, atau membersihkan saluran air, tetapi bau tetap kembali muncul. Ini terjadi karena air kotor dan sisa sabun sudah mengendap di bawah lantai dan tidak bisa dibersihkan dari atas.

Selain itu, bau apek biasanya akan semakin terasa:

  • Setelah kamar mandi jarang digunakan
  • Saat cuaca lembab atau musim hujan
  • Ketika ventilasi tidak bekerja dengan optimal

Jika dibiarkan terlalu lama, bau ini bisa menyebar ke ruangan lain di rumah dan membuat seluruh area terasa kurang nyaman. Penggunaan pengharum ruangan hanya menutupi aroma sementara, tanpa menyelesaikan akar masalahnya.

Kesimpulannya, bau tidak sedap dari kamar mandi sering menjadi tanda adanya masalah tersembunyi di bawah lantai. Membersihkan permukaan saja tidak cukup jika air sudah terperangkap di bagian bawah. Penanganan sejak dini akan membantu menjaga kamar mandi tetap segar, higienis, dan nyaman digunakan.


7. Membahayakan Instalasi di Bawah Lantai. 

Di bawah lantai kamar mandi, terdapat berbagai instalasi penting yang tidak terlihat, seperti pipa air bersih, saluran pembuangan, dan lapisan pelindung lantai. Saat permukaan lantai tidak lagi utuh, air akan lebih mudah meresap ke bagian bawah dan mengenai area-area ini.

Air yang terus masuk secara perlahan bisa mempercepat kerusakan pipa, terutama pada sambungan atau bagian yang sudah berusia lama. Awalnya mungkin tidak terlihat apa-apa, tetapi dalam jangka panjang, pipa bisa menjadi rapuh, bocor, atau tersumbat oleh kotoran yang terbawa air.

Masalahnya, kebocoran di bawah lantai sering kali tidak langsung terdeteksi. Kamu baru menyadarinya setelah muncul tanda-tanda seperti:

  • Lantai terasa selalu basah meski sudah dikeringkan
  • Dinding di sekitar kamar mandi mulai lembab
  • Air merembes ke ruangan lain

Jika kondisi ini dibiarkan, kerusakan bisa menjalar ke area lain di rumah. Perbaikan instalasi bawah lantai biasanya membutuhkan pembongkaran, yang tentu memakan waktu, tenaga, dan biaya lebih besar dibanding perbaikan di permukaan.

Selain pipa, lapisan semen dan pelindung lantai juga bisa melemah akibat paparan air terus-menerus. Struktur lantai menjadi kurang kokoh, sehingga meningkatkan risiko kerusakan lanjutan di kemudian hari.

Intinya, masalah pada lantai kamar mandi tidak hanya berdampak di permukaan. Jika air sudah mencapai instalasi di bawahnya, risiko kerusakan menjadi lebih serius dan sulit ditangani. Menangani sejak awal akan membantu melindungi sistem penting di dalam rumah dan mencegah perbaikan besar di masa depan.


Kesimpulan

Keramik yang retak bukan hanya masalah tampilan. Bahayanya bisa berdampak pada keselamatan, kebersihan, hingga kerusakan bangunan. Semakin cepat kamu menangani keramik yang retak, semakin kecil risiko dan biaya yang harus dikeluarkan.


5 Cara Mengatasi Keramik Kamar Mandi yang Retak. 

Mengatasinya

1. Kenali Jenis Retakan Terlebih Dahulu. 

Sebelum kamu melakukan perbaikan apa pun, langkah paling penting adalah mengenali jenis retakan pada keramik kamar mandi. Setiap tipe kerusakan membutuhkan penanganan yang berbeda. Jika salah menilai kondisi, perbaikan bisa menjadi tidak efektif atau justru membuat kerusakan semakin parah.

Luangkan waktu sejenak untuk mengamati permukaan lantai atau dinding kamar mandi secara menyeluruh, terutama di area yang sering terkena air.


a. Retak Halus atau Pecah Rambut

Retak jenis ini biasanya terlihat seperti garis tipis di permukaan keramik. Sekilas memang tampak sepele dan sering dianggap tidak berbahaya.

Ciri-cirinya:

  • Garis retak tipis dan tidak melebar
  • Permukaan keramik masih terasa rata saat diinjak
  • Tidak ada suara kosong atau goyang

Meski terlihat ringan, retak halus tetap perlu diperhatikan. Air bisa meresap melalui celah kecil ini dan perlahan merusak bagian bawah keramik. Jika dibiarkan, retakan bisa melebar dan menimbulkan masalah baru.


b. Retak Lebar atau Pecah

Jenis kerusakan ini lebih mudah dikenali karena retak terlihat jelas bahkan dari kejauhan. Pada kondisi tertentu, bagian keramik bisa terasa tajam dan membahayakan kaki.

Tanda-tandanya:

  • Retakan cukup lebar dan memanjang
  • Ada bagian keramik yang sedikit terangkat
  • Terasa tidak nyaman saat diinjak

Retak lebar menandakan struktur keramik sudah melemah. Penanganannya tidak bisa hanya dengan penambalan ringan, karena risiko kerusakan lanjutan jauh lebih besar.


c. Keramik Terasa Goyang atau Berbunyi

Jika saat diinjak keramik terasa bergerak atau mengeluarkan bunyi kosong, ini menandakan adanya rongga di bawah permukaan.

Ciri yang sering muncul:

  • Keramik tidak stabil
  • Bunyi kopong saat diketuk
  • Retakan muncul di bagian tepi

Kondisi ini sering terjadi akibat pemasangan yang kurang rapi atau perekat yang tidak merata. Jika tidak segera ditangani, keramik berpotensi pecah sepenuhnya.


Kenapa Langkah Ini Sangat Penting?

Dengan mengenali jenis retakan sejak awal, kamu bisa:

  • Menentukan solusi yang paling tepat
  • Menghindari perbaikan yang sia-sia
  • Mencegah biaya tambahan di kemudian hari
  • Menjaga kamar mandi tetap aman dan nyaman digunakan

Langkah sederhana ini sering diabaikan, padahal sangat menentukan hasil akhir perbaikan.


2. Memperbaiki Retak Halus pada Keramik. 

Retak halus pada keramik kamar mandi sering kali terlihat sepele karena bentuknya hanya berupa garis tipis. Namun jika dibiarkan, air bisa meresap melalui celah kecil tersebut dan menyebabkan kerusakan di bagian bawah lantai. Karena itu, retakan jenis ini sebaiknya segera ditangani meskipun belum terasa saat diinjak.

Kabar baiknya, retak halus masih bisa diperbaiki tanpa harus membongkar seluruh keramik.


Langkah-Langkah Perbaikan Retak Halus

Berikut tahapan yang bisa kamu ikuti agar hasilnya lebih maksimal:

1. Bersihkan Area Retakan

Pastikan permukaan keramik bebas dari sabun, kerak, dan kotoran. Gunakan sikat halus atau kain bersih agar retakan terlihat jelas dan bahan penutup bisa menempel dengan baik.

2. Keringkan Permukaan Keramik

Retakan harus benar-benar kering sebelum diperbaiki. Kamu bisa mengelapnya dengan kain kering atau menunggu beberapa jam hingga tidak ada sisa air.

3. Gunakan Sealant atau Epoxy Khusus Keramik

Oleskan bahan penutup mengikuti arah retakan. Lakukan secara perlahan agar celah tertutup sempurna dan tidak meninggalkan rongga udara.

4. Ratakan dan Bersihkan Sisa Bahan

Setelah diaplikasikan, ratakan permukaan menggunakan spatula kecil atau kartu plastik. Bersihkan sisa bahan sebelum mengering agar tidak meninggalkan bekas kasar.

5. Biarkan Mengering Sempurna

Hindari menginjak atau menyiram area tersebut selama beberapa jam sesuai petunjuk produk. Proses pengeringan yang sempurna membantu hasil perbaikan lebih awet.


Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Memperbaiki Retak Halus

Beberapa hal ini sebaiknya dihindari:

  • Menutup retakan saat lantai masih basah
  • Menggunakan bahan yang tidak khusus untuk keramik
  • Menginjak keramik sebelum bahan benar-benar kering
  • Mengabaikan retakan kecil karena dianggap tidak berbahaya

Kesalahan kecil ini bisa membuat retakan muncul kembali dalam waktu singkat.


Kapan Perbaikan Ringan Tidak Lagi Cukup?

Jika setelah diperbaiki retakan terus muncul atau semakin lebar, kemungkinan ada masalah pada bagian bawah keramik. Dalam kondisi seperti ini, solusi terbaik adalah mengganti keramik agar tidak menimbulkan kerusakan lanjutan.


Penutup

Menangani retak halus sejak awal membantu mencegah air masuk ke lapisan bawah lantai dan memperpanjang usia keramik kamar mandi. Dengan langkah yang tepat dan bahan yang sesuai, perbaikan ringan bisa menjadi solusi praktis tanpa perlu renovasi besar.


3. Memperbaiki Keramik Retak Lebar atau Pecah. 

Jika keramik di kamar mandi sudah mengalami retakan lebar atau bahkan pecah, menambalnya bukan lagi solusi yang aman. Pada kondisi ini, langkah terbaik adalah mengganti keramik yang rusak agar tidak menimbulkan masalah lanjutan seperti kebocoran atau risiko terluka.

Berikut tahapan yang bisa kamu lakukan.


1. Lepas Keramik yang Rusak dengan Hati-hati

Gunakan palu dan pahat kecil untuk mengangkat keramik yang pecah. Mulailah dari bagian tengah keramik agar tekanan tidak merambat ke keramik di sekitarnya. Lakukan secara perlahan supaya keramik lain tetap utuh dan tidak ikut retak.

Jika pecahan keramik cukup tajam, gunakan sarung tangan agar tangan tetap aman.


2. Bersihkan dan Ratakan Permukaan Bawah

Setelah keramik terlepas, bersihkan sisa perekat atau adukan lama yang menempel di lantai. Permukaan yang tidak rata bisa menjadi penyebab utama keramik baru kembali rusak.

Pastikan bagian bawah benar-benar:

  • Bersih dari debu dan kotoran
  • Rata dan tidak berlubang
  • Kering sebelum pemasangan ulang

3. Periksa Kondisi Lantai Dasar

Sebelum memasang keramik baru, perhatikan kondisi lantai di bawahnya. Jika terlihat lembab, retak, atau rapuh, sebaiknya perbaiki terlebih dahulu. Memasang keramik di atas lantai yang bermasalah hanya akan membuat kerusakan muncul kembali.


4. Gunakan Perekat Keramik yang Berkualitas

Pilih perekat keramik khusus area basah agar daya rekatnya kuat dan tahan terhadap air. Oleskan perekat secara merata, jangan terlalu tipis dan jangan terlalu tebal, supaya keramik bisa menempel dengan sempurna.

Tekan keramik perlahan hingga posisinya sejajar dengan keramik di sekitarnya.


5. Perhatikan Proses Pengeringan

Setelah pemasangan, hindari menginjak area tersebut minimal 24 jam. Waktu pengeringan sangat penting untuk memastikan keramik benar-benar menempel kuat dan tidak mudah bergeser.


6. Rapikan Nat Setelah Keramik Terpasang

Langkah terakhir adalah mengisi nat di sekeliling keramik. Gunakan nat khusus kamar mandi agar tidak mudah menghitam dan tahan lembab. Nat yang rapi membantu mencegah air masuk ke celah lantai.


Tips Tambahan Agar Keramik Tidak Mudah Rusak Lagi

  • Gunakan keramik dengan ketebalan dan kualitas baik.
  • Pastikan pemasangan dilakukan di permukaan yang rata.
  • Hindari menjatuhkan benda berat ke lantai kamar mandi.
  • Jangan biarkan air menggenang terlalu lama.

Dengan penanganan yang tepat, keramik yang retak lebar atau pecah bisa diganti dengan aman dan tahan lama. Langkah ini memang membutuhkan sedikit usaha, tetapi hasilnya jauh lebih aman dan nyaman untuk digunakan sehari-hari.


4. Memperbaiki Keramik yang Goyang. 

Keramik kamar mandi yang terasa goyang saat diinjak adalah tanda masalah yang tidak boleh diabaikan. Meski belum terlihat retak besar, kondisi ini bisa cepat berubah menjadi pecah jika terus dibiarkan. Selain itu, keramik yang tidak menempel kuat juga berisiko membuat kamu terpeleset.

Masalah ini biasanya terjadi karena bagian bawah keramik tidak terisi sempurna atau perekatnya sudah melemah.


Langkah-Langkah Mengatasi Keramik yang Goyang

Berikut cara penanganan yang aman dan efektif:

1. Lepaskan Keramik dengan Hati-Hati

Gunakan alat pipih seperti pahat kecil atau obeng datar. Angkat keramik perlahan agar tidak merusak keramik di sekelilingnya. Jika keramik masih utuh, kamu bisa menggunakannya kembali.

2. Bersihkan Bagian Bawah Keramik

Buang sisa semen atau perekat lama yang menempel di bawah keramik dan lantai. Permukaan yang bersih membantu perekat baru menempel lebih kuat.

3. Isi Rongga dengan Perekat atau Adukan Baru

Gunakan perekat keramik berkualitas atau adukan semen yang cukup tebal. Pastikan tidak ada bagian yang kosong agar keramik tidak goyang kembali.

4. Pasang Kembali Keramik dan Ratakan

Letakkan keramik di posisi semula, lalu tekan perlahan hingga benar-benar rata. Gunakan palu karet jika perlu agar posisi lebih presisi.

5. Biarkan Mengering Sempurna

Jangan menginjak atau menyiram area tersebut setidaknya selama 24 jam. Waktu pengeringan sangat menentukan kekuatan hasil perbaikan.


Hal yang Perlu Diperhatikan Setelah Perbaikan

  • Periksa kembali apakah keramik benar-benar menempel kuat
  • Pastikan nat di sekeliling keramik tertutup rapi
  • Hindari beban berat di area tersebut selama beberapa hari
  • Perhatikan apakah muncul suara kosong saat diketuk

Jika masih terasa tidak stabil, kemungkinan masalah ada pada struktur lantai dan perlu penanganan lebih lanjut.


Kapan Sebaiknya Memanggil Tukang?

Kamu sebaiknya menggunakan jasa profesional jika:

  • Banyak keramik yang goyang di satu area
  • Keramik sering kembali lepas meski sudah diperbaiki
  • Lantai dasar terasa turun atau tidak rata
  • Ada tanda kebocoran dari bawah lantai

Penanganan menyeluruh akan mencegah kerusakan berulang.


Penutup

Keramik kamar mandi yang goyang bukan hanya masalah kenyamanan, tetapi juga keselamatan. Dengan memperbaikinya sejak awal, kamu bisa mencegah retak besar, kebocoran, dan risiko terpeleset. Perbaikan yang tepat akan membuat lantai kembali kokoh dan aman digunakan.


5. Periksa Sumber Masalah di Bawah Keramik. 

Jika keramik kamar mandi sering retak meskipun sudah diperbaiki, kemungkinan besar masalahnya bukan pada keramik itu sendiri, melainkan pada bagian bawahnya. Banyak orang langsung mengganti keramik tanpa mengecek kondisi lantai dasar, padahal langkah ini justru membuat kerusakan mudah terulang.

Permukaan Lantai Tidak Rata

Salah satu penyebab paling umum adalah lantai dasar yang tidak rata atau tidak padat. Saat keramik dipasang di atas permukaan yang bergelombang atau berongga, tekanan dari pijakan kaki akan terfokus pada titik tertentu. Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat keramik tidak mampu menahan beban dan akhirnya pecah.

Solusinya, keramik yang rusak perlu dibongkar lalu permukaan lantai diratakan kembali menggunakan adukan semen atau perekat khusus. Pastikan tidak ada rongga sebelum pemasangan ulang dilakukan.

Adanya Rembesan Air di Bawah Keramik

Kamar mandi adalah area yang selalu bersentuhan dengan air. Jika terdapat rembesan dari pipa, floor drain, atau nat yang sudah rusak, air bisa masuk ke bawah keramik. Lama-kelamaan, air ini melemahkan lapisan perekat dan struktur lantai, sehingga keramik menjadi rapuh.

Untuk mengatasinya, kamu perlu memastikan tidak ada kebocoran tersembunyi. Periksa area sekitar saluran air dan pipa. Jika perlu, lakukan pelapisan waterproofing sebelum memasang keramik kembali agar lantai lebih tahan lama.

Struktur Lantai yang Sudah Melemah

Pada rumah yang usianya sudah cukup lama, struktur lantai kamar mandi bisa mengalami penurunan kualitas. Retakan yang muncul di beberapa titik sekaligus sering menjadi tanda bahwa lantai dasar tidak lagi kuat menahan beban seperti sebelumnya.

Dalam kondisi ini, perbaikan tidak cukup hanya mengganti keramik. Lantai dasar sebaiknya diperkuat terlebih dahulu agar hasil perbaikan tidak bersifat sementara.

Beban Berat di Area Tertentu

Peletakan benda berat seperti mesin cuci, bak air besar, atau lemari di kamar mandi juga bisa menjadi pemicu. Tekanan yang terus-menerus pada satu titik membuat lantai bekerja lebih keras, terutama jika bagian bawahnya tidak benar-benar padat.

Jika memungkinkan, pindahkan beban berat atau gunakan alas penyangga agar tekanan tersebar lebih merata.

Kenapa Pengecekan Ini Penting?

Tanpa mengecek sumber masalah di bawah keramik, perbaikan yang kamu lakukan hanya akan bertahan sementara. Dengan memastikan lantai dasar dalam kondisi baik, keramik yang dipasang akan lebih kuat, awet, dan tidak mudah rusak kembali.


Kesimpulan

Cara mengatasi masalah ini sangat bergantung pada jenis dan tingkat kerusakannya. Retakan kecil masih bisa diperbaiki, tapi keramik yang sudah pecah atau goyang sebaiknya segera diganti. Semakin cepat kamu menanganinya, semakin kecil risiko kerusakan lanjutan yang bisa terjadi.


Cukup sekian dan semoga bermanfaat. Terimakasih.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top