Cara Merawat Talenan Bambu agar Tidak Berjamur dan Tetap Awet

Talenan bambu menjadi salah satu peralatan dapur favorit karena tampilannya yang natural, ringan, dan mampu memberikan kesan hangat pada area memasak. Selain itu, talenan bambu dikenal lebih ramah lingkungan dan cukup kuat untuk digunakan memotong berbagai bahan makanan. Namun seperti peralatan berbahan kayu lainnya, talenan ini membutuhkan perawatan khusus agar tidak mudah lembap, berjamur, atau cepat retak.

Sayangnya, masih banyak orang yang masih bingung cara merawatnya dengan benar. Akibatnya, talenan mudah menghitam, berbau, dan bahkan menjadi sarang bakteri. Padahal, dengan perawatan sederhana dan rutin, talenan bambu bisa bertahan lebih lama, tetap higienis, dan aman digunakan setiap hari.

Talenan Bambu

9 Cara Merawat Talenan Bambu agar Tidak Berjamur dan Tetap Awet.

1. Cuci Sesegera Mungkin Setelah Digunakan. 

Talenan bambu memiliki pori-pori kecil yang bisa menyerap cairan dan sisa makanan. Karena itu, membersihkannya segera setelah digunakan adalah langkah paling penting untuk mencegah jamur dan bakteri berkembang.

Jika talenan dibiarkan terlalu lama dengan sisa bawang, daging, atau sayuran yang menempel, kotoran tersebut akan meresap ke dalam pori-pori bambu dan menyebabkan:

  • munculnya jamur putih di permukaan,
  • talenan menjadi bau (amis, bawang, atau asam),
  • permukaan menghitam dan sulit dibersihkan,
  • dan umur talenan menjadi jauh lebih pendek.

Cara mencuci yang benar:

  1. Bilas talenan dengan air mengalir.
  2. Gunakan sabun cuci piring biasa dan spons yang tidak terlalu kasar.
  3. Gosok permukaan mengikuti arah serat bambu agar tidak merusak lapisannya.
  4. Hindari merendam talenan terlalu lama karena air dapat membuat bambu mengembang dan retak.

Mencuci talenan segera setelah dipakai membuatnya tetap bersih, higienis, dan jauh lebih awet.


2. Hindari Menggunakan Air Panas

Banyak orang mengira membersihkan talenan bambu dengan air panas bisa membunuh bakteri dan membuatnya lebih higienis. Sayangnya, cara ini justru merusak struktur bambu dalam jangka panjang.

Kenapa air panas tidak dianjurkan?

1. Air panas membuat serat bambu mengembang

Bambu memiliki pori-pori alami. Ketika terkena air panas:

  • pori-pori akan mengembang,
  • permukaan menjadi tidak stabil,
  • dan talenan lebih mudah “gompal” atau berserabut.

Hasilnya, permukaan talenan menjadi kasar dan tidak nyaman untuk dipakai memotong.

2. Mempercepat retakan

Perubahan suhu drastis (dari dingin ke panas) membuat bambu mengalami thermal shock.
Akibatnya:

  • talenan bisa retak,
  • bagian tengah melengkung,
  • atau sudut-sudutnya terbelah.

Kerusakan ini sering terjadi tanpa disadari sampai talenan sudah benar-benar rusak.

3. Air panas mempercepat pertumbuhan jamur bila tidak dikeringkan sempurna

Saat serat bambu mengembang karena panas, air lebih mudah masuk ke dalam pori-porinya. Jika tidak dikeringkan benar-benar:

  • talenan lebih lama lembap,
  • dan jamur mudah muncul.

Padahal, tujuan awal ingin membuat talenan lebih bersih, tetapi malah berpotensi membuatnya berjamur.

4. Tidak benar-benar diperlukan

Untuk membersihkan talenan bambu, cukup gunakan:

  • sabun cuci piring biasa,
  • air mengalir suhu normal atau hangat ringan,
  • spons lembut.

Jika ingin sterilisasi tambahan, lebih aman menggunakan campuran garam + lemon atau cuka + air.


Kesimpulan

Air panas bukan hanya tidak efektif untuk merawat talenan bambu, tetapi juga mempercepat kerusakannya. Jauh lebih aman menggunakan air suhu normal atau hangat ringan, kemudian mengeringkannya dengan benar.


3. Keringkan dengan Benar, Jangan Dibiarkan Tergeletak

Mengeringkan talenan bambu adalah langkah yang sangat penting untuk mencegah jamur. Banyak orang hanya menaruh talenan di atas meja setelah dicuci dan membiarkannya kering sendiri. Padahal, cara itu justru membuat talenan lembap lebih lama dan memberi kesempatan jamur tumbuh.

Kenapa harus dikeringkan dengan benar?

  • Bambu adalah bahan yang menyerap air.
  • Jika talenan tetap basah terlalu lama, air akan masuk ke pori-porinya.
  • Kondisi lembap ini mempercepat munculnya jamur putih atau hitam pada permukaan atau pinggiran talenan.
  • Kelembapan yang terperangkap juga membuat talenan melengkung dan retak.

Cara mengeringkan yang benar:

  1. Segera lap talenan setelah dicuci
    Gunakan kain bersih atau tisu tebal untuk menyerap air sebanyak mungkin. Semakin cepat air dibersihkan, semakin kecil peluang jamur muncul.
  2. Jangan ditidurkan
    Meletakkan talenan secara horizontal membuat air di bagian bawahnya tidak menguap dan menyebabkan lembap.
  3. Berdirikan talenan
    Sandarkan talenan pada rak atau dinding agar dua sisi talenan terkena udara dan cepat kering.
  4. Biarkan di tempat berventilasi baik
    Pastikan talenan berada di tempat terbuka, bukan di rak tertutup atau lemari yang minim sirkulasi udara.
  5. Jika perlu, jemur sebentar di bawah sinar matahari lembut
    Ini membantu menghilangkan kelembapan dan membunuh bakteri, tapi jangan terlalu lama agar bambu tidak kering berlebihan.

4. Hindari Menyimpannya di Tempat Lembap. 

Talenan bambu sangat sensitif terhadap kelembapan. Ketika disimpan di tempat yang gelap, tertutup, atau tidak memiliki sirkulasi udara yang baik—misalnya di dalam laci dapur atau rak yang selalu basah—air akan terperangkap di permukaan bambu. Kondisi inilah yang membuat talenan menjadi lembap lebih lama, dan kelembapan adalah faktor utama yang memicu tumbuhnya jamur, flek hitam, dan bahkan bau apek.

Bambu juga merupakan material alami yang memiliki pori-pori kecil. Jika pori-pori tersebut terus-menerus menyerap kelembapan, talenan bisa:

  • berjamur,
  • menghitam di beberapa bagian,
  • melengkung, atau
  • mulai retak di tepiannya.

Karena itu, setelah talenan benar-benar kering, simpanlah di tempat yang terbuka atau memiliki aliran udara. Kamu bisa menaruhnya di:

  • rak piring yang terbuka,
  • stand talenan berdiri,
  • gantungan dinding dapur,
  • atau ditopang agar sedikit berdiri di area countertop.

Hindari menyimpannya di dekat wastafel yang sering terkena cipratan air atau di lemari tertutup yang kurang ventilasi. Semakin baik sirkulasi udaranya, semakin kecil risiko talenan bambu berjamur.


5. Lakukan Perawatan dengan Minyak Secara Berkala. 

Talenan bambu sebenarnya memiliki pori-pori alami. Saat sering terkena air dan sabun, pori-pori tersebut bisa menjadi kering sehingga talenan mudah retak, permukaannya kasar, atau bahkan menyerap bau makanan. Agar tetap awet, talenan bambu perlu ditutup (seal) menggunakan minyak food grade sehingga permukaannya tetap lembap, halus, dan terlindungi dari air berlebih.

Kenapa Harus diolesi Minyak?

Karena manfaatnya sangat penting, antara lain:

  • Mencegah retak akibat kekeringan.
  • Mengurangi penyerapan air sehingga tidak mudah berjamur.
  • Menjaga permukaan tetap halus saat digunakan memotong.
  • Mengurangi bau makanan yang mudah meresap ke bambu.
  • Memberikan lapisan pelindung agar lebih higienis.

Minyak Apa yang Harus Digunakan?

Gunakan hanya food grade oil, yaitu minyak aman yang tidak berbahaya jika terkena makanan. Pilihan yang paling direkomendasikan:

  1. Mineral Oil (food grade)
    – Yang paling aman dan paling banyak digunakan.
    – Tidak beraroma, tidak tengik, tidak berubah warna.
  2. Beeswax Food Grade (opsional)
    – Digunakan sebagai campuran untuk hasil lebih mengkilap dan tahan air.
    – Biasanya dicampur mineral oil.
  3. Coconut Oil Food Grade (tanpa aroma)
    – Bisa digunakan, tapi pilih yang refined agar tidak cepat tengik dan tidak menimbulkan bau.

Jangan gunakan: minyak goreng, minyak zaitun, atau minyak nabati biasa.
Jenis itu mudah tengik dan membuat talenan bau.


Cara Mengoleskan Minyak ke Talenan Bambu

  1. Pastikan talenan benar-benar kering, bukan sekadar lembap.
  2. Tuangkan sedikit minyak ke kain bersih atau tisu.
  3. Oleskan secara merata ke seluruh permukaan, termasuk samping-sampingnya.
  4. Diamkan semalaman agar minyak meresap.
  5. Lap sisa minyak berlebih keesokan paginya.

Seberapa Sering Perawatan Ini Harus Dilakukan?

  • 1–2 kali per bulan untuk pemakaian harian.
  • Jika talenan terasa mulai kering, kusam, atau warnanya pudar, ulangi perawatan lebih cepat.

6. Gunakan Campuran Lemon dan Garam untuk Menghilangkan Bau. 

Talenan bambu sering menyerap aroma dari bahan makanan yang memiliki bau kuat, seperti bawang putih, bawang merah, ikan, atau daging. Jika tidak dibersihkan dengan benar, bau tersebut bisa menetap dan muncul kembali saat kamu memotong bahan lain.

Cara yang paling aman, efektif, dan tidak merusak talenan adalah menggunakan campuran lemon dan garam. Berikut alasan dan cara kerjanya:


Kenapa Lemon dan Garam Efektif untuk Menghilangkan Bau?

1. Lemon Bersifat Antibakteri Alami

Air lemon mengandung senyawa asam sitrat yang mampu:

  • membunuh bakteri penyebab bau,
  • melarutkan sisa minyak,
  • serta memberikan aroma segar pada permukaan talenan.

Asam sitrat ini bekerja menembus pori-pori talenan bambu sehingga bau yang terserap bisa terangkat.

2. Garam Kasar Bertindak sebagai Scrub Alami

Garam memiliki tekstur kasar yang aman untuk permukaan bambu—tidak merusak seratnya seperti spons kasar.
Fungsinya:

  • mengangkat noda membandel,
  • membersihkan lapisan lemak tipis,
  • dan membantu lemon bekerja lebih dalam ke permukaan bambu.

Kombinasi keduanya membuat proses pembersihan jauh lebih efektif dibanding sabun biasa.


Cara Menghilangkan Bau pada Talenan Bambu dengan Lemon dan Garam

Langkahnya sederhana dan bisa dilakukan kapan saja:

  1. Taburkan garam kasar (garam dapur juga bisa, tetapi garam kasar lebih efektif) ke permukaan talenan yang ingin dibersihkan.
  2. Belah lemon menjadi dua, lalu gunakan salah satu bagiannya sebagai “sikat alami”.
  3. Gosok permukaan talenan menggunakan lemon, tekan sedikit agar air lemon keluar dan bercampur dengan garam.
  4. Gosok melingkar hingga seluruh permukaan rata, terutama bagian yang menyerap bau.
  5. Diamkan 3–5 menit agar asam lemon bekerja melarutkan bau dan bakteri.
  6. Bilas dengan air mengalir.
  7. Keringkan dengan lap, lalu angin-anginkan sampai benar-benar kering (jangan ditidurkan).

Kapan Perlu Melakukan Metode Ini?

Gunakan metode lemon + garam ketika:

  • talenan mulai berbau bawang, amis, atau asam,
  • talenan berubah warna atau tampak berminyak,
  • setelah memotong bahan berbau kuat,
  • atau setidaknya 1 kali dalam seminggu jika sering digunakan.

Tips Tambahan Agar Talenan Tidak Mudah Bau

  • Keringkan talenan setiap selesai dicuci.
  • Hindari merendam talenan terlalu lama.
  • Oleskan minyak mineral secara rutin agar pori-pori talenan tertutup.

7. Jangan Memotong Semua Jenis Bahan di Satu Talenan.

Banyak orang menganggap talenan bisa digunakan untuk memotong apa saja—daging, sayur, buah, hingga roti. Padahal, kebiasaan ini justru membuat talenan lebih cepat rusak dan berisiko menyebarkan bakteri ke makanan.

Kenapa tidak boleh?

  1. Daging mentah mengandung banyak bakteri
    Bahan seperti ayam, daging sapi, dan seafood mentah membawa bakteri seperti salmonella atau E.coli.
    Jika kamu menggunakan talenan yang sama untuk memotong sayuran atau buah tanpa mencucinya dengan benar, bakteri bisa berpindah ke makanan dan meningkatkan risiko keracunan.
  2. Aroma melekat dan sulit hilang
    Bawang, lengkuas, kunyit, atau ikan mudah meninggalkan bau kuat.
    Jika digunakan untuk memotong buah atau roti setelahnya, aroma tersebut bisa menempel dan membuat rasanya aneh.
  3. Talenan cepat kotor dan lebih mudah berjamur
    Jus daging, cairan sayur, serta sisa-sisa makanan lainnya dapat masuk ke pori-pori talenan bambu.
    Jika bercampur, residu akan lebih sulit dibersihkan dan mempercepat munculnya jamur.
Solusi terbaik

Gunakan talenan terpisah untuk jenis bahan yang berbeda:

  • Talenan 1: khusus daging & ikan
  • Talenan 2: khusus sayur
  • Talenan 3: khusus roti/buah

Atau minimal gunakan:

  • Talenan basah (untuk bahan mentah)
  • Talenan kering (untuk bahan siap makan)
Manfaatnya
  • Makanan lebih higienis
  • Talenan lebih awet
  • Risiko kontaminasi silang berkurang
  • Bau dan noda tidak gampang menempel

8. Jangan Masukkan ke Mesin Cuci Piring (Dishwasher).

Talenan bambu tidak boleh dicuci menggunakan dishwasher karena kondisi di dalam mesin cuci piring sangat berbeda dengan cucian manual biasa. Ada tiga faktor utama yang dapat merusak talenan bambu:

1. Suhu Air Sangat Tinggi

Mesin cuci piring menggunakan air dengan suhu tinggi untuk menghilangkan minyak dan membunuh bakteri.
Masalahnya, suhu panas berlebihan membuat serat bambu:

  • mengembang,
  • melemah,
  • dan akhirnya retak.

Bambu adalah material alami yang lebih sensitif terhadap panas dibanding plastik atau stainless steel.


2. Semprotan Air Bertekanan Tinggi

Di dalam dishwasher, talenan terkena semprotan air yang sangat kuat dari berbagai arah.
Tekanan ini bisa:

  • merusak permukaan,
  • membuat lapisan bambu cepat menipis,
  • dan menyebabkan talenan melengkung.

3. Siklus Pengeringan yang Ekstrem

Setelah pencucian, dishwasher mengeringkan peralatan menggunakan udara panas.
Ketika talenan bambu mengalami:

  • basah → sangat panas → kering cepat,

maka ini membuat struktur bambu gampang pecah dan mengelupas.


Kesimpulannya

Talenan bambu sebaiknya selalu dicuci manual agar seratnya tetap kuat dan tidak cepat rusak. Cuci dengan sabun ringan, bilas, lalu langsung keringkan dan angin-anginkan.


9. Segera Ganti Jika Ada Tanda Kerusakan.

Talenan bambu memang kuat, tetapi seiring pemakaian lama, beberapa tanda kerusakan bisa muncul. Jika dibiarkan, kerusakan tersebut bukan hanya mengganggu kenyamanan saat digunakan, tetapi juga dapat membahayakan kesehatan.

Berikut kondisi yang menandakan talenan harus diganti:

1. Terdapat Retakan Besar atau Serat yang Mengelupas

Retakan pada talenan bambu dapat menjadi tempat bersarangnya bakteri dan sisa makanan yang sulit dibersihkan.
Jika serat mulai mengelupas, serpihannya bisa ikut masuk ke makanan saat memotong, yang tentu saja tidak aman.

2. Jamur yang Sulit Hilang

Jamur ringan biasanya masih bisa dibersihkan, tetapi jika jamur:

  • muncul berulang,
  • warnanya sudah kehitaman atau kehijauan,
  • atau menyebar di banyak permukaan,

itu tanda bahwa bambu sudah terlalu lembap dan strukturnya mulai rusak. Dalam kondisi ini, penggunaan lebih lanjut tidak disarankan.

3. Bau Tidak Sedap yang Tidak Hilang Meskipun Sudah Dibersihkan

Jika bau amis, bawang, atau bau basi tetap menempel bahkan setelah dicuci, digosok lemon, dan dijemur, berarti talenan sudah menyerap bau terlalu dalam.
Ini biasanya terjadi pada talenan yang sudah lama digunakan atau sering terkena bahan mentah seperti daging dan ikan.

4. Permukaan Tidak Lagi Rata

Permukaan talenan yang mulai melengkung atau bergelombang akan membuat proses memotong menjadi tidak stabil dan membahayakan.
Bambu yang melengkung menandakan terlalu sering terpapar air atau tidak dikeringkan dengan benar.

5. Talenan Terasa Licin meskipun Bersih

Jika permukaannya terasa licin saat kering, itu bisa jadi tanda bahwa bakteri sudah mengendap di serat-serat bambu.
Biasanya ini terjadi setelah penggunaan jangka panjang.


Kenapa Harus Diganti?

Karena talenan yang rusak dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri seperti:

  • Salmonella
  • E. coli
  • atau jamur berbahaya

yang bisa menyebabkan kontaminasi makanan dan gangguan kesehatan.

Silahkan baca juga tentang Piring keramik dan kaca.


Pembahasan penting Lainnya.


Talenan Bambu vs Kayu: Mana yang Lebih Tahan Lama?

Saat memilih talenan untuk dapur, kebanyakan orang akan mempertimbangkan dua bahan populer: bambu dan kayu. Keduanya sama-sama terlihat natural, kokoh, dan cocok untuk dapur rumah. Namun, jika fokusnya adalah mana yang lebih tahan lama, jawabannya tidak sesederhana itu karena setiap bahan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Berikut penjelasan lengkapnya.


1. Talenan Bambu: Ringan, Kuat, dan Lebih Padat

Talenan bambu semakin populer karena dianggap ramah lingkungan dan memiliki tampilan yang rapi. Bambu secara alami lebih rapat seratnya, sehingga:

Kelebihan Talenan Bambu
  • Lebih keras dan padat dibanding kayu biasa, sehingga tidak mudah tergores.
  • Tahan air lebih baik, sehingga risiko menyerap cairan atau bau lebih rendah.
  • Lebih ringan, mudah dipindah saat memasak.
  • Umumnya lebih murah dibanding talenan kayu berkualitas.
  • Tidak mudah menjadi tempat bakteri karena pori-porinya lebih halus.
Kekurangan Talenan Bambu
  • Karena keras, bisa membuat pisau lebih cepat tumpul.
  • Jika sering terkena air dan tidak dikeringkan, tepiannya bisa mudah patah atau retak.
  • Permukaannya kadang terasa sedikit licin saat memotong bahan tertentu.
Apakah tahan lama?

Ya, talenan bambu tahan lama jika dirawat dengan benar. Namun sifatnya yang keras tapi rapuh di sisi samping membuatnya bisa cepat retak jika sering terkena air panas atau dikeringkan terlalu cepat.


2. Talenan Kayu: Lebih Kokoh dan Awet Bertahun-tahun

Talenan kayu masih menjadi favorit chef profesional karena dianggap paling stabil dan nyaman untuk memotong.

Kelebihan Talenan Kayu
  • Lebih empuk dari bambu, sehingga tidak merusak mata pisau.
  • Jika menggunakan kayu berkualitas seperti teak, maple, atau beech, talenan bisa bertahan bertahun-tahun.
  • Permukaannya lebih stabil dan tidak licin ketika digunakan.
  • Lebih tahan terhadap retak karena serat kayunya alami dan fleksibel.
Kekurangan Talenan Kayu
  • Menyerap air lebih mudah, sehingga harus dirawat lebih teliti.
  • Lebih berat dibanding bambu.
  • Bila tidak dirawat, bisa lebih cepat berjamur.
Apakah tahan lama?

Dengan perawatan rutin seperti oil treatment (minyak mineral), talenan kayu terkenal sangat awet dan bisa bertahan lebih dari 5–10 tahun.


Kesimpulan: Mana yang Lebih Tahan Lama?

Jika membandingkan keawetan murni, talenan kayu berkualitas biasanya lebih tahan lama daripada talenan bambu, terutama jika dirawat dengan baik.

  • Talenan Bambu → Tahan lama, ringan, tapi lebih rentan retak di tepinya.
  • Talenan Kayu → Lebih awet dalam jangka panjang, lebih kokoh, lebih ramah pada mata pisau.

Pemenangnya untuk daya tahan jangka panjang: Talenan Kayu. Silahkan lihat harganya talenan kayu berkualitas di Shopee.

Namun, jika mencari talenan yang murah, ringan, dan tidak mudah menyerap bau, talenan bambu tetap pilihan bagus.


Penyebab Talenan Bambu Cepat Berjamur dan Cara Mengatasinya. 

Talenan bambu dikenal kuat, ringan, dan tampilannya estetik. Namun, banyak orang mengeluh talenan bambu cepat berjamur. Jamur yang muncul biasanya berbentuk noda hitam atau bintik-bintik gelap yang sulit hilang. Masalah ini sebenarnya bisa dicegah jika kita tahu penyebabnya.

Berikut penjelasan lengkapnya.


Penyebab Talenan Bambu Cepat Berjamur

1. Talenan Tidak Dikeringkan dengan Benar

Bambu bisa menyerap sedikit air. Jika setelah dicuci tidak dikeringkan sampai tuntas, permukaan talenan akan tetap lembap. Kondisi lembap inilah yang menjadi tempat favorit jamur untuk berkembang.

2. Disimpan di Tempat yang Lembap atau Tertutup

Meletakkan talenan di kabinet dapur yang kurang ventilasi atau menumpuknya dengan talenan lain dapat memerangkap uap air, sehingga jamur mudah muncul.

3. Jarang Dibersihkan Secara Menyeluruh

Kadang talenan terlihat bersih, tapi minyak dan kotoran halus masih menempel di permukaannya. Kotoran inilah yang bisa memicu timbulnya jamur, apalagi jika sering digunakan untuk memotong bahan basah seperti daging dan sayuran.

4. Terlalu Sering Terpapar Air

Mencuci talenan bambu dengan merendamnya terlalu lama di air akan membuat bambu menyerap kelembapan berlebih. Saat bambu mulai mengembang, jamur bisa tumbuh dengan cepat.

5. Talenan Tidak Pernah Diolesi Minyak

Talenan bambu sebenarnya membutuhkan perawatan berupa pengolesan minyak food grade (seperti coconut oil atau minyak mineral). Tanpa lapisan pelindung, pori-pori bambu mudah menahan air dan memicu jamur.


Cara Mengatasi Talenan Bambu yang Sudah Berjamur

1. Gosok Dengan Campuran Baking Soda dan Lemon

Campurkan baking soda dengan air perasan lemon hingga berbentuk pasta. Gosokkan ke area yang berjamur menggunakan spons atau sikat. Lemon membantu mengangkat noda, sedangkan baking soda berperan sebagai pembersih alami.

2. Siram Air Panas untuk Membunuh Jamur

Tuangkan air panas secara perlahan ke permukaan talenan. Cara ini membantu membunuh jamur dan sekaligus mengeluarkan sisa-sisa kotoran dari pori bambu.

3. Keringkan di Bawah Sinar Matahari

Jemur talenan di bawah sinar matahari langsung sekitar 1–2 jam. Matahari sangat efektif menghilangkan kelembapan dan membunuh jamur secara alami.

4. Amplas Halus Jika Jamur Membandel

Jika bintik-bintik hitam tidak hilang, amplas permukaan talenan menggunakan amplas halus (grade 240–400). Setelah itu, bersihkan lagi dan keringkan.

5. Olesi Minyak Food Grade

Setelah talenan bersih dan kering, oleskan minyak mineral atau coconut oil tipis-tipis. Diamkan selama 1–2 jam. Ini akan menutup pori-pori bambu dan membuatnya lebih tahan terhadap jamur di kemudian hari.


Cara Mencegah Agar Talenan Bambu Tidak Mudah Berjamur

  • Selalu keringkan sampai benar-benar kering setelah dicuci
  • Simpan di tempat terbuka atau di rak yang terkena angin
  • Jangan merendam talenan terlalu lama
  • Olesi minyak food grade setiap 1–2 minggu sekali
  • Gunakan dua talenan terpisah (daging dan sayur) agar tidak cepat kotor

Cukup sekian dan semoga bermanfaat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top